Akibat Embargo Inggris dan Pembatasan dari AS, Argentina Buka Opsi untuk Akuisisi Jet Tempur JF-17 Thunder

Akibat Embargo Inggris dan Pembatasan dari AS, Argentina Buka Opsi untuk Akuisisi Jet Tempur JF-17 Thunder

Meski punya anggaran pengadaan alutsista, bukan perkara mudah bagi Argentina untuk memodernisasi armada jet tempurnya. Masih bertumpu pada A-4AR Fightinghawk, yakni varian jet tempur Skyhawk dengan avionik F-16 Fighting Falcon, membuat Negeri asal Lionel Messi ini harus berbenah untuk melakukan pembaruan pada aset tempur udaranya. Tapi pasca Perang Malvinas (Falkland), rupanya faktor Inggris masih menjadi hambatan untuk serangkaian pengadaan alutsista.

Baca juga: Lockheed Martin A-4AR Fightinghawk – Jet Tempur Skyhawk ‘Reborn’ dengan Avionik F-16 Fighting Falcon

Dilansir dari defensenews.com (21/9/2022), Pemerintah Argentina telah mengatakan kepada anggota parlemen bahwa berencana untuk menghabiskan anggaran sekitar US$684 juta untuk pengadaan jet tempur baru dan membangun infrastruktur terkait. Anggaran tersebut, termasuk dalam Keputusan 88/22 tahun berjalan, yang menyerukan alokasi US$664 juta untuk membeli pesawat tempur, ditambah dana US$20 juta untuk pembangunan infrastruktur baru yang diperlukan untuk mendukung operasional.

Syarat pun muncul untuk kriteria jet tempur baru Argentina, yakni harus punya kemampuan multirole yang dilengkapi dengan radar active electronically scaned array (AESA), sistem pengisian bahan bakar di udara yang kompatibel dengan pesawat tanker milik AU Argentina (KC-130), dan jet tempur sudah dibekali tactical data link dan electronic warfare defensive suite.

Jet tempur dengan desain arsitektur terbuka akan diminta untuk mengintegrasikan sistem senjata dari asal negara mana pun. Nah, tetapi yang menarik ada persyaratan hukum, di mana ada permintaan agar tidak ada sistem, subsistem, atau komponen buatan Inggris atau yang dirancang dalam pesawat yang akan dibeli Argentina.

Rupanya larangan tersebut ada tujuannya, yakni untuk mengurangi tekanan dari Inggris, yang sejak perang Falklands pada tahun 1982 telah membatasi atau melarang pasokan suku cadang dan bahan untuk perangkat keras militer ke Argentina.

FA-50 melepaskan bom MK82.

Selama ini, Pemerintah Inggris telah menghambat program pemeliharaan dan kapasitas operasional platform dan senjata Argentina, dan dalam beberapa tahun terakhir telah melobi negara asal penjual untuk mengurungkan niatnya menjual jet tempur ke Argentina, sebut saja Dassault Mirage F1, Saab Gripen dan Korea Aerospace Industries FA-50, yang kesemuanya ‘batal’ diakuisisi karena tekanan embargo dan lobi Inggris.

Kilas balik pada rencana Korea Selatan untuk menjual FA-50 Fighter Eagle Ke Argentina. Inggris secara efektif telah melarang penjualan FA-50 Fighting Eagle ke Argentina, tujuan pelarangan penjualan lebih difokuskan kepada pihak manufaktur, yaitu Korea Aerospace Industrie (KAI), dimana Korea Selatan tidak diizinkan menjual jet tempur yang suku cadangnya, diantaranya berasal dari Inggris.

Dalam surat tertanggal 28 Oktober 2020, seorang pejabat senior di KAI mengatakan kepada Duta Besar Argentina untuk Republik Korea Selatan, bahwa bahwa FA-50 tidak dapat diekspor karena embargo senjata pemerintah Inggris di negara tersebut. Martin Chun selaku KAI Senior Manager and Chief, International Business Strategy Departmen dalam suratnya kepada Duta Besar Argentina Alfredo Carlos Bascou, dikatakan ada enam komponen utama pada FA-50 yang berasal dari Inggris.

Dua dari enam komponen penting asal Inggris yang ada di keluarga jet tempur FA-50 Fighter Eagle adalah penggunaan kursi pelontar buatan Martin Baker dan Head Up Display (HUD) yang dipasok oleh BAE Systems.

Harus mencari celah dari tekanan Inggris, Argentina harus mencari opsi lain, jawaban yang dikirim ke anggota parlemen menyebutkan jenis pesawat yang sudah dinilai dan sedang dipertimbangkan sebagai solusi potensial, dalam hal ini termasuk JF-17 Thunder, yang diproduksi bersama oleh Cina dan Pakistan; F-16 Viper buatan Lockheed Martin Amerika Serikat; Tejas buatan Hindustan Aeronautics Ltd. India; dan Mikoyan MiG-35 dari Rusia.

Tejas terbukti hemat biaya, tetapi komponen radar aslinya sebagian berasal dari Inggris, sistem pengisian bahan bakar dalam penerbangannya adalah desain dari Inggris dan juga kursi pelontarnya berasal dari perusahaan Inggris Martin Baker. Sementara radar dapat diganti, mengganti sistem pengisian bahan bakar dalam penerbangan akan lebih kompleks, karena mungkin memerlukan intervensi struktural. Dan mengganti kursi pelontar akan membutuhkan desain ulang kokpit yang mahal.

Perwira senior AU Argentina mengungkapkan, Argentina juga tidak mungkin memilih MiG-35 karena alasan “politik dan logistik”. Sumber tersebut merasakan hal yang sama tentang Tejas, karena untuk mengganti komponen yang dapat diveto oleh Inggris akan sangat mahal.

Bagaimana dengan F-16 dari AS? Angkatan Udara Argentina lebih suka F-16, tetapi Pemerintah AS tidak akan membantu, “karena mereka hanya bersedia untuk mengizinkan penjualan dalam kondisi yang sangat ketat,” kata perwira itu, ditambah akan ada lobi dari Inggris untuk mempengaruhi keputusan AS.

Baca juga: Korea Selatan Terganjal Embargo dari Inggris, Dilarang Jual FA-50 Fighter Eagle ke Argentina

Dan dengan pilihan yang terbatas, opsi pada JF-17 Thunder menjadi menguat. JF-17 adalah sebuah mesin yang tidak memiliki komponen atau suku cadang dari Inggris. Lain dari itu, JF-17 Block 3 juga sudah hadir dengan kelengkapan radar AESA. Sementara itu, Israel Aerospace Industries (IAI) meluncurkan kampanye baru di Buenos Aires untuk mempromosikan opsi membeli jet tempur bekas pakai Kfir yang diperbarui dan ditingkatkan. (Gilang Perdana)



Source link