Bagaimana Pengalaman Pemindahan IKN di Masa Lalu?

MALANG, RagamNews.com – Pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) mendapat respons beragam. Masyarakat dengan serunya memperdebatkan pemindahan IKN dari Jakarta ke Kalimantan Timur tersebut.

Begitu luas kalangan yang terlibat dalam wacana pemindahan itu, mulai dari arsitek, planolog, sejarawan, politikus, masyarakat awam, dan sebagainya. Bahkan, pemindahan tersebut juga memunculkan demonstrasi menentang pemindahan IKN.

Baik pihak pemerintah yang akan memindahkan atau pun pihak yang menentangnya memiliki alasan masing-masing.

Akan tetapi, kita tidak membahas alasan pemindahan IKN yang sekarang, looo yaaa.

Kita akan melihat pemindahan ibu kota kerajaan di masa kuno yaitu pada masa pemerintahan Raki Kayuwangi di Jawa Tengah, Pemerintahan Raja Pu Sindok ke Jawa Timur dan Pemerintahan Raja Airlangga.

Untuk pemindahan pusat pemerintahan suatu kerajaan di masa kuno tersebut, alasannya apa yaaa?

Kerajaan Mataram setidaknya mengalami beberapa kali pemindahan pusat pemerintahan. Pertama, Pusat pemerintahan di Mêdang yang terletak di Poh Pitu (Kedu). Rakai Kayuwangi memindahkan ibu kota ke Mamratipura.

Ibu kota yang lama telah menjadi tempat peperangan perebutan tahta antara Rakai Pikatan dan Rakai Walaing. Kraton Mataram hancur oleh peperangan itu. Sehingga, kraton dianggapnya sudah tidak sakral lagi. Oleh karena itu, Kraton dipindahkan oleh Rakai Kayuwangi. Rakai Kayuwangi adalah pengganti Rakai Pikatan.

Setelah pemerintahan Daksa, Gunung Merapi Meletus kira-kira pada perempat pertama abad 10 Masehi. Letusan itu demikian dahsyatnya sehingga sebagian besar puncaknya hilang dan terjadi pergeseran lapisan tanah ke arah barat daya sehingga terjadi lipatan yang antara lain membentuk Gunung Menoreh. Letusan itu disertai dengan gempa yang hebat, banjir lahar, hujan abu panas, dan batu-batuan yang sangat mengerikan.

Bahkan pasir dari letusan itu menimbun kompleks Candi Sambisari di daerah Kalasan sedalam tujuh meter di bawah tanah. Wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dan Bantul tertutup oleh pasir Merapi.

Adanya kondisi yang demikian ini mendorong Raja Sindok untuk memindahkan letak ibukota kerajaan itu ke tempat yang lebih aman dan lebih suci, yaitu ke wilayah Jawa Timur, di Tamwlang. Informasi ini diperoleh dari Prasasti Turyyan 929 Masehi.

Sampai dengan Pemerintahan Raja Darmawangsa Teguh, wilayahnya masih bernama Mataram, meskipun pusat pemerintahan Kerajaan Mataram telah berpindah ke Jawa Timur (seperti disebut dalam Prasasti Wwahan 985 Masehi). Selama hampir 200 tahun itu Mataram mengeluarkan 200 prasasti.

Pu Sindok membangun kembali Kerajaan Mataram di Jawa Timur dengan tetap mempertahankan nama Mataram.

Pu Sindok adalah Raja Mataram pertama yang memerintah di Jawa Timur setelah terjadi perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Meskipun Pu Sindok masih keturunan Raja Wawa atau termasuk dalam Dinasti Sailendra, tetapi dia dianggap sebagai pendiri dinasti baru yaitu Dinasti Isana.

Selama pemerintahannya, Pu Sindok telah mengeluarkan sekitar 27 prasasti yang hampir semuanya berisi sima yang diperuntukkan bagi bangunan suci.

Sima adalah status tanah perdikan (tanah yang dibebaskan dari pembayaran pajak). Pemerintahan Pu Sindok berlangsung dari 929 Masehi (yaitu Gulung-Gulung 929 Masehi sebagai prasasti pertama yang dikeluarkannya hingga keluarnya Prasasti Warundungan sebagai prasasti terakhirnya).

Pu Sindok beberapa kali memindahkan ibu kota kerajaannya. Prasasti Turyan 929 Masehi menyebutkan bahwa ibu kota kerajaan berada di Tamwalang.

Prasasti Paradah 934 Masehi dan Prasasti Anjukladang 937 Masehi menyebut ibu kota kerajaan berada di Watugaluh (mungkin di Jombang sekarang).

Airlangga memindahkan ibu kota sebanyak tiga kali juga. Pertama, ibu kota berada di Wwatan Mas. Itu menurut Prasati Cane 1021 Masehi.

Kemudian ibu kota berpindah ke Kahuripan, itu menurut Prasasti Kamalagyan 1036 Masehi.

Terakhir, ibu kota Kerajaan Airlangga berada di Dahanapura (menurut Prasasti Pamwatan 1042 Masehi).

Perpindahan oleh Raja Rakai Kayuwangi, Raja Pu Sindok dan oleh Raja Airlangga itu disebabkan oleh sebab-sebab yang kondisional.

Rakai Kayuwangi memindahkan kraton dari Medang ke Mamratipura, karena alasan keamanan.

Raja Pu Sindok harus memindahkan ibu kota dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, karena ancaman alam yaitu letusan Gurung Merapi.

Raja Airlangga harus memindahkan beberapa kali ibu kotanya, karena ancaman keamanan keratonnya yang telah diserang oleh beberapa pemberontakan.

Itu semua adalah alasan-alasan pemindahan ibu kota di masa kuno terutama masa pemerintahan Rakai Kayuwangi, Raja Pu Sindok dan Raja Airlangga.

Penjelasan pemindahan tersebut menjadi wilayah sejarah. Yaaa, karena peristiwa itu sudah terjadi di masa lalu. Bahkan, peristiwa tersebut sudah terjadi berabad yang lalu.

Lalu untuk pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) dari Jakarta ke Kalimantan Timur yang sekarang sedang hangat-hangatnya menjadi sorotan, alasannya apa yaaa?

Penulis: Susanto Yunus Alvian

Sejarawan