Bagya Mulyanto, Kesederhanaan CEO PTPN VIII

Bagja Mulyanto, Kesederhanaan CEO PTPN
Bagja Mulyanto, CEO PTPN VIII | Sumber Foto:Dokumen pribadi

RagamNews.com – Jangan remehkan kesederhanaan seseorang.  Siapa mengira kesederhanaan justru mengantarkan menjadi Chief Executive Officer (CEO).  Itulah Bagya Mulyanto, Direktur Utama PT. Perkebunan Nusantara VIII (PTPN VIII).

Belum genap setahun Bagya Mulyanto memimpin perusahaan yang memiliki 37 ribu karyawan ini. Sebelumnya, Bagya Mulyanto menempati posisi Asisten Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus komisaris PT. Pembinaan Usaha Indonesia (Bahana).  Amanah yang cukup prestisius.

Sikapnya yang sederhana dan apa adanya mengantarkannya menduduki jabatan-jabatan strategis dalam pemerintahan.  “Jujur kuncinya,” kata Bagya Mulyanto.  Jujur pada diri sendiri dan jujur pada orang lain, motto hidup yang Bagya Mulyanto pegang teguh.

Bagya Mulyanto tak pernah bermimpi menjadi seorang CEO.  Selepas kuliah, Bagya Mulyanto hijrah ke Jakarta, daerah yang bagaikan luar negeri pada saat kecil.  Di Ibukota, Bagya Mulyanto bekerja sebagai pegawai di kantor konsultasi dan tenaga akuntan, serta piah salam. Tak berapa lama, ia berkeinginan kembali ke kampung halaman untuk menanam tebu di Karanganyar, Solo. Belum sempat dijalankan, Bagya Mulyanto mendapatan tawaran lain.

Kala itu seorang teman mengajaknya mendaftar menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).  Berbekal restu orang tua, ikutlah Bagya Mulyanto ke Klaten, tempat pendaftaran dibuka.  Alasan Bagya Mulyanto sangat lah sederhana untuk menjadi PNS, “Saya ingin punya pistol (senjata api) biar gaya, jadi saya memilih untuk menjadi pegawai bea cukai bagian luar kantor,” sebut Bagya Mulyanto.

Hal seleksi pun muncul, nasip telah menentukan Bagya Mulyanto tetap menjadi pribadi yang sederhana, ia tidak berkesempatan memiliki pistol seperti yang diidamkan.  Bagya Mulyanto malah ditempatkan di Kementerian Keuangan divisi BUMN.

20 tahun sudah Bagya Mulyanto mengadu nasib di kota besar, namun Bagya Mulyanto tetaplah pribadi yang sederhana.  Hobinya pun masih sama seperti masa kecil dulu.  Melihat bintang.  “Dulu belum punya teropong bintang, kalau sekarang pake teropong sendiri, harganya ndak mahal kok,” ujar Bagya Mulyanto.  Bagaikan pembagian angkatan bersenjata, hobi Bagya Mulyanto dibedakan menjadi 3 katagori.  Darat, laut, dan Udara.

Udara, seperti yang telah disebutkan, meneropong bintang.  Bagya Mulyanto bukanlah seorang ahli astronomi, hanya menyenangi astronomi.  Bagya Mulyanto menyebutkan,

“Saat meneropong bintang, kita merasa sangat kecil dan nggak ada artinya apa-apa.  Kita itu larut dalam wahana yang sulit di gambarkan dengan kata-kata.”

Laut, keindahan alam bawah laut Indonesia yang tersohor seantero jagat juga menjadi daya tarik Bagya Mulyanto.  Diving menjadi hobi Bagya Mulyanto selain meneropong bintang.  Menikmati keindahan alam bawah laut merupakan pengalaman yang buatnya releks.

Darat, hobi Bagya Mulyanto yang satu ini mencerminkan kesederhaan sikapnya.  Jogging, olah raga murah meriah, namun bermanfaat bagi kesehatan.  Ditengah aktifitasnya yang padat, setidaknya dalam sepekan Bagya Mulyanto menyempatkan waktu untuk berjogging.

Selain rutin olah raga Bagya Mulyanto pun rutin terlibat dalam kegiatan sosial.  Seperti menjadi Ketua Dewan Pembina Yayasan Kerukunan Indonesia – Malaysia, yang bertujuan mengurangi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) informal di Malaysia.  Selain itu, Bagya Mulyanto juga memiliki Pondok Pesantren yang ia beri nama Darul Bagya.  Pondok Pesantren yang berada di Leuiliang, Bogor, Jawa Barat ini tidak memungut biaya pada para santri yang menimba ilmu disana.

Bagya Mulyanto sangat mengedepankan generasi muda untuk berilmu.

“setiap orang yang berilmu, khususnya yang rajin membaca, akan lebih cepat dewasa dan matang,” ujarnya.

Seperti yang kerap ia lakukan saat masih menimba ilmu di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, waktu luang ia sempatkan diri ke perpustakaan.  Bukan buku-buku teks yang ia baca, melainkan buku-buku pengembangan diri dan buku-buku prediksi perkembangan dunia kedepannya.

Semasa kuliah, selain mengenyam pendidikan formal, Bagya Mulyanto juga disibukkan sebagai asisten dosen dalam membantu berbagai penelitian.  Berbekal keilmuan yang mumpuni, Master Manajemen ini memiliki andil dalam mengembangkan BUMN.  Setidaknya 2 hal yang paling berkesan.

Pertama, pengajuan penyertaan modal negara untuk pembuatan kapal selam, “karena ilmu tertinggi di laut yaitu kapal selam,” kata Bagya Mulyanto. Kedua, mengholdingkan BUMN pertambangan. “Kuncinya, komunikasi dan niat yang tulus, alhamdulillah programnya berjalan,” sebut Bagya Mulyanto dengan penuh rasa syukur.

Selalu bersyukur atas karunia yang diberikan dan menjalin hubungan baik pada sesama, membuat Bagya Mulyanto disenangi banyak orang.  Terbukti, baru hitungan bulan Bagya Mulyanto memimpin PTPN VIII, namun ia sudah dekat dengan para pegawai serta masyarakat sekitar.  Tak tanggung-tanggung, Bagya Mulyanto juga menjadi dewan penasehat pencak silat di kawasan perkebunan.  Semua itu buah dari sikapnya yang sederhana.