Diduga Lakukan Spionase Lewat Jaringan Seluler, Inilah Kisah Redupnya Huawei di AS

Diduga Lakukan Spionase Lewat Jaringan Seluler, Inilah Kisah Redupnya Huawei di AS

(FinancialTimes)

Sengkarut antara Pemerintah Amerika Serikat dan vendor jaringan Huawei nyatanya tak sebatas pada dugaan upaya spionase yang terjadi atas jaringan 5G di Uni Emirat Arab (UEA). Jauh sebelum itu, unit kontra intelijen dari Federal Bureau of Investigation (FBI) dalam laporannya mengungkapkan bahwa perangkat jaringan seluler Huawei dapat mengganggu komunikasi pada rantai komando persenjataan nuklir AS.

Baca juga: Sengkarut Antara Jet Tempur F-35, Huawei dan Teknologi 5G

Jurnalis CNN, Katie Bo Lillis secara eksklusif mengungkapkan investigasinya yang diposting di cnn.com (25/7/2022), dikataan dalam sebuah kesepakatan yang fantastis pada tahun 2017, Pemerintah Cina menawarkan untuk mengucurkan dana US$100 juta untuk membangun Chinese Garden berornamen di National Arboretum yang terletak Washington DC. Chinese Garden rencananya akan hadir lengkap dengan kuil, paviliun, dan pagoda putih setinggi 70 kaki (21 meter). Sontak saja, proyek Chinese Garden membuat para pejabat setempat senang, yang berharap akan menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya.

Tetapi ketika unit kontra intelijen AS mulai menggali detailnya, mereka menemukan banyak tanda bahaya. Pagoda itu, kata mereka, akan ditempatkan secara strategis di salah satu titik tertinggi di Washington DC, hanya dua mil jaraknya dari US Capitol, tempat yang sempurna untuk pengumpulan sinyal intelijen.

(Foto: navy-radio.com)

Yang juga mengkhawatirkan adalah pejabat Cina ingin membangun pagoda dengan bahan yang dikirim ke AS dalam kantong diplomatik, yang dilarang untuk diperiksa oleh pejabat Bea Cukai AS. Pejabat federal diam-diam kemudian membungkam proyek itu sebelum konstruksi berlangsung.

Proyek Chinese Garden pun akhirnya dibatalkan lewat aktivitas kontra-intelijen oleh FBI dan agen federal lainnya yang berfokus pada apa yang diyakini pejabat keamanan AS sebagai peningkatan dramatis spionase Cina di tanah AS selama dekade terakhir.

Setidaknya sejak 2017, pejabat federal telah menyelidiki pembelian tanah oleh pihak Cina di dekat infrastruktur kritis. Aksi itu telah direspo AS dengan menutup konsulat regional terkenal yang diyakini sebagai sarang mata-mata Cina dan memasang perangkat pendengar di dekat area sensitif, seperti pangkalan miiter.

Menurut FBI, di antara poin yang paling mengkhawatirkan berkaitan dengan perangkat Huawei buatan Cina di atas menara seluler (BTS) dekat pangkalan militer AS di area pedesaan Midwest. Menurut berbagai sumber yang mengetahui masalah ini, FBI mengetahui bahwa peralatan di BTS itu mampu menangkap dan mengganggu komunikasi Departemen Pertahanan yang sangat terbatas, termasuk yang digunakan oleh Komando Strategis AS, yang mengawasi senjata nuklir.

Tidak jelas apakah komunitas intelijen AS dapat menentukan apakah ada data yang benar-benar disadap dan dikirim ke Beijing dari menara BTS tersebut. Sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa dari sudut pandang teknis, sangat sulit untuk membuktikan paket data tertentu dicuri dan dikirim ke luar negeri.

Pemerintah Cina dengan tegas menyangkal segala upaya untuk memata-matai AS. Huawei dalam sebuah pernyataan telah membantah bahwa perangkat jaringannya mampu beroperasi dalam spektrum komunikasi apa pun yang dialokasikan untuk Departemen Pertahanan.

Tetapi beberapa sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut mengakatan bahwa tidak diragukan lagi bahwa peralatan Huawei memiliki kemampuan untuk mencegat, tidak hanya lalu lintas seluler komersial tetapi juga frekuensi yang sangat terbatas yang digunakan oleh militer dan mengganggu komunikasi Komando Strategis AS yang penting, yang memberikan potensi bagi pemerintah Cina ke gudang senjata nuklir AS.

Buntut dari hal di atas, pada tahun 2020, Kongres AS menyetujui dana senilai US$1,9 miliar untuk menghapus teknologi seluler buatan Huawei dan ZTE area rural pedesaan. Tetapi dua tahun kemudian, wilayah pedesaan masih menunggu uang penggantian yang akan diberikan pemerintah federal.

Baca juga: Pertama Kali, Cina Sukses Uji Coba Aerial Base Station Multi Layanan dan Operator Seluler

Federal Communications Commission (FCC) menerima permintaan untuk menghapus sekitar 24.000 BTS buatan Cina, tetapi menurut data pada 15 Juli 2022, dibutuhkan dana lebih dari $3 miliar untuk mengganti semua perangkat jaringan seluler produksi Cina dengan perangkat baru dari vendor jaringan lain seperti Samsung Electronics, Ericsson dan Nokia. (Gilang Perdana)



Source link