Kehadiran Militer AS di Ukraina Bisa Halangi Serangan Rusia – Republika Online

Tuesday, 25 Ramadhan 1443 / 26 April 2022
Tuesday, 25 Ramadhan 1443 / 26 April 2022

Rabu 06 Apr 2022 10:25 WIB
Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani
Pasukan terjun payung dari Divisi Lintas Udara ke-82 Fort Bragg menuju ke pesawat pada hari Senin, 14 Februari 2022, di Fort Bragg, NC Mereka termasuk di antara tentara yang dikirim Departemen Pertahanan dalam demonstrasi komitmen Amerika kepada sekutu NATO yang khawatir dengan prospeknya Rusia menginvasi Ukraina.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Mark Milley, mengatakan, kehadiran pasukan militer AS di Ukraina dapat menghalangi Rusia untuk melancarkan invasi ke Kiev. Dalam sidang bersama Komite Angkatan Bersenjata House of Representative pada Selasa (5/4), Milley mengatakan,  Presiden Rusia Vladimir Putin telah lama merencanakan operasi militer di Ukraina.
“Invasi Rusia ke Ukraina itu telah menjadi tujuan Putin sejak lama. Ini telah menjadi tujuan jangka panjangnya sejak bertahun-tahun lalu, jadi saya pikir gagasan untuk menghalangi Putin menginvasi Ukraina adalah dengan membutuhkan komitmen pasukan militer AS,  dan saya pikir itu akan dapat mempertaruhkan konflik bersenjata dengan Rusia,” ujar Milley, dilansir Anadolu Agency, Rabu (6/4).

Milley menyerukan lebih banyak pembentukan pangkalan militer di Ukraina Timur untuk menangkal agresi Rusia di masa depan. Dia mengatakan, pasukan AS yang akan dikerahkan ke Ukraina harus dirotasi, bukan pengerahan permanen.
“Saran saya adalah membuat pangkalan permanen tetapi jangan stasiun secara permanen, sehingga pasukan dapat terus berada di sana dengan gaya rotasi melalui pangkalan permanen,” kata Milley.
Milley juga mengatakan, sekutu AS seperti Polandia, Rumania atau negara-negara yang berada di Baltik akan bersedia untuk menjadi tempat pangkalan militer permanen AS.  “Mereka akan membangunnya, mereka akan membayarnya,” ujar Milley.
Rusia melancarkan operasi militer khusus di Ukraina mulai 24 Februari. Operasi ini telah memicu kemarahan internasional Uni Eropa, AS, Inggris, dan beberapa negara lain menerapkan sanksi keuangan yang keras terhadap Moskow.
Menurut perkiraan PBB, setidaknya 1.480 warga sipil telah tewas di Ukraina dan 2.195 terluka. Namun, angka sebenarnya dikhawatirkan jauh lebih tinggi. Sementara lebih dari 4,24 juta warga Ukraina telah melarikan diri ke negara lain.
Baca juga : Rusia Beralih Gunakan Microchip China untuk Dukung Sistem Pembayaran Lokal
Dapatkan Update Berita Republika
Pelanggaran HAM yang Jelas dan Kekuatan Buzzer di Kisruh Desa Wadas
Tiga Besar Elektabilitas Bakal Capres yang Semakin Mengerucut dan Stabil
Perintah Netral dalam Pengungkapan Dugaan Korupsi Minyak Goreng
Larangan Ekspor Minyak Goreng Sesuai Aspirasi, Tapi Jangan Jadi Kebijakan ‘Angin-anginan’
Imbauan Mudik Lebih Awal: Jangan Sampai Tragedi Brexit 2016 Terulang
Kabar Jogja

Hal ini dikarenakan meningkatnya inflasi akibat kebutuhan yang juga meningkat.
Pertanian

Gelaran pangan murah berkualitas ini sudah dilakukan di 12 titik di Jatim
Bali Nusa Tenggara

Jeffrey Douglas Craign membuat video meresahkan pada pertengahan April 2022.
Politik

Erick Thohir dinilai paling siap dan disukai kaum muda Pesantren.
Banten

BPBD perlu memasang kembali rambu-rambu evakuasi dan shelter.
2 PHOTO
2 PHOTO
2 PHOTO
12 PHOTO
5 PHOTO
Selasa , 26 Apr 2022, 03:09 WIB
Senin , 25 Apr 2022, 20:44 WIB
Phone: 021 780 3747
Fax: 021 799 7903
Email:
newsroom@rol.republika.co.id (Redaksi)
sekretariat@republika.co.id (Redaksi)
marketing@republika.co.id (Marketing)
Copyright © 2018 republika.co.id, All right reserved

source