Misteri Sayyid Abdurrahman Al Farsy, Sang Ahli Nujum Majapahit

MALANG, RagamNews.com – Majapahit adalah kerajaan besar yang pernah berdiri di Nusantara pada abad ke-13 sampai ab-15 Masehi dengan wilayah kekuasaan mulai dari barat yakni Semenanjung Malaya hingga timur yakni di Seram dan Nusa Tenggara atau Dompo.

Sebagai kerajaan yang banyak berhubungan dengan dunia internasional, Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang multikultural dan terbuka terhadap perubahan budaya yang masuk baik dari Barat (Gujarat, Timur Tengah) maupun dari Timur seperti Cina,

Majapahit menjadi tempat pertukaran budaya dan budaya yang sangat beragam, berbagai budaya serta interaksi yang terjadi di dalamnya

Tidak bisa memungkiri bahwasannya sebaga imperium besar yang berinteraksi dengan dunia Barat dan Timur, Majapahit banyak berinteraksi dengan peradaban Islam dari jalur India maupun Persia.

Hal itu berlangsung termasuk selama abad ke-12 hingga abad ke-13 yakni saat terjadi perpecahan dan konflik besar dalam dunia Islam seperti runtuhnya Abbasiyah oleh Serangan Mongol pada tahun 1258 dan konflik internal berbagai dinasti kecil di bawahnya yang menyebabkan mereka harus melakukan eksodus ke berbagai daerah terutama Nusantara

Eksodus tersebut sebenarnya adalah eksodus pertama bagi orang Islam ke Nusantara. Jika kita menilik dari teori Hamka dan berbagai catatan Cina seperti I Tsing/Yijing, maka sebenarnya pada abad ke 7-8 Nusantara sudah mengenal orang Ta-Shih/Arab yang banyak di antara mereka adalah orang-orang Islam.

Perlu digarisbawahi bahwa yang dimaksud dengan masuknya Islam pada abad ke-13 di sini adalah masuknya Islam secara massal di Nusantara terutama Jawa.

Pada saat bersamaan, berdirilah sebuah emporium besar bernama Majapahit pada tahun 1292, bersamaan dengan masuknya orang Islam yang membawa diri dari bekas kekhalifahan Abbasiyah tersebut,

Majapahit sebagai Emporium yang jamak menerima kedatangan mereka dengan baik bahkan beberapa nama pejabat tinggi Majapahit seperti Syaikh Jumadil Qubro (1349) yang dikutip dari Van Bruinnesen dalam Babad Cirebon disebut sebagai leluhur para wali di Jawa

Selain Syaikh Jumadil Qubro, tentulah ada banyak ulama lain yang hidup dan tinggal di Kota Raja Majapahit hampir bersamaan dengannya, tetapi kurang dikenal seperti Sayyid Abdurrahman Al Farsi yang kisah hidupnya masih misteri.

Mbah Ageng sebagai sebutan lain dari Sayyid Abdurrahman, merupakan orang yang berhubungan dengan seluruh makam Islam. Ia adalah orang pertama yang ada di Pulau Jawa. Sebelumnya, Makam Islam Troloyo Syekh Subakir.mengenai hubungan dengan Kerajaan Majapahit, Mbah Ageng disebut sebagai spiritual tertua di Majapahit.

Tetapi informasi ini masihlah simpang siur dab serba tercampur dengan mitos, Sementara dikutip dari disparpora.mojokertokab.go.id, beliau disebut-sebut sebagai tokoh agama sekaligus ahli nujum pada zaman kerajaan Mojopahit.

Demikianlah sekilas mengenai perjalanan hidup Sayyid Abdurrahman di Majapahit. Semua itu masih samar dan sejauh mana ada bukti tertulis mengenai hal-hal selain cerita lisan, makam, dan beberapa situs umpak yang dikenal sebagai Umpak Jabung

Sosok Sayyid Abdurrahman

Jika kita menggali/mengumpulkan lisan dari masyarakat sekitar makam, beliau dikenal sebagai seorang ulama negeri Persia yang kemungkinan datang pada abad ke-13 akhir hingga abad ke-14 awal.

Ia diutus oleh Sayyid Jumadil Qubro untuk mendirikan perdikan/perkampungan di atas bukit di selatan Trowulan yang sekarang menjadi desa Lebak Jabung serta wafat dan dikebumikan di sana.

Beliau adalah ahli nujum Majapahit dan berhasil mengislamkan putra mahkota dari Brawijaya IV (kemungkinan Hayam Wuruk) Panji Laras.

Beberapa Sumber

Makam Sayyid Abdurrahman terletak di desa Lebak Jabung Kecamatan Jatirejo Kabupaten Mojokerto. Makam beliau ditemukan pertama kali pada tahun 1910 oleh tokoh masyarakat setempat yang bernama KH Nawawi.

Makam beliau sering dikunjungi peziarah yang melakukan napak tilas spiritual atau ritual tertentu. Puncak kunjungan wisatawan terjadi pada saat malam Jumat Legi dan setiap malam tanggal 15 bulan Ruwah diadakan acara haul sekaligus ruwat desa yang merupakan budaya setempat

Sementara situs Umpak Jabung terletak sekitar 200 meter dari lokasi makam. Tempat-tempat ini dulunya kemungkinan adalah perkampungan yang dibuktikan dengan penemuan banyak umpak atau pondasi bangunan di lokasi tersebut

Selanjutnya makam jago panjilaras, berada sekitar 700 meter di sebelah utara makam, terletak di area persawahan yang diyakini tempat bersemayamnya ayam (pusaka) Panji Laras.

Masih Menjadi Misteri

Meskipun ditemukan artefak berupa makam dan beberapa bukti lain seperti umpak di sekitar makam, tetapi sekali lagi bahwa artefak yang ditemukan di sana adalah benda mati yang tidak dapat menjelaskan mengenai siapa Sayyid Abdurrahman sendiri.

Dari sumber tersebut tidak ditemukan inskripsi khusus maupun catatan literal yang menjelaskan secara pasti siapa beliau dan bagaimana kiprah beliau selama hidup serta berapa tahun beliau hidup,

Satu hal yang dapat bercerita tentang beliau adalah dari kolektif serta tutur lisan masyarakat yang telah terputus ratusan tahun dengan beliau hidup sehingga bisa dibilang cerita mengenai beliau masih lemah validitas sejarahnya alias sejarah mengenai beliau masih gelap.

Hal ini sebenarnya adalah hal umum dari sejarah perubahan Majapahit (Hindu, red) ke masa Islam di mana terjadi pergeseran budaya baru sehingga menyebabkan perubahan identitas. Budaya lama berubah menjadi budaya baru sehingga terjadi missing link kebidayaan.

Selain itu, jarak antara masa Majapahit dan masa sekarang terpaut jauh. Sementara itu tidak ada pencatatan yang baik menyebabkan ingatan tentang Sayyid Abdurrahman turut menurun bersamaan dengan runtuhnya Majapahit. Memori tersebut kemudian bercampur pula dengan unsur mitos.

Penulis : Azriel Hudansyah

Mahasiswa Universitas Negeri Malang