Para-atlet Jacky Hunt-Broersma Pecahkan Rekor Maraton | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | RagamNews.com

Ketika Jacky Hunt-Broersma mengatakan mantranya adalah, “Saya bisa melakukan hal-hal sulit,” dia tidak bercanda. Atlet yang diamputasi kakinya ini telah menjalani 104 maraton dengan menggunakan prostesis serat karbon.

Para-atlet asal Afrika Selatan ini menyelesaikan maraton pada hari Sabtu (30/04) di dekat rumahnya di pinggiran Kota Phoenix, AS, dengan mencatat rekor dunia tidak resmi. “Perjalanan yang luar biasa,” demikian tulisnya di Twitter.

Atlet asal Afrika Selatan, yang kehilangan kaki kirinya di bawah lutut karena kanker langka itu, mendapat perhatian dunia dan media sosial. Brick Runners, sebuah organisasi yang mendukung atlet dengan menggalang dana untuk amal, bahkan merancang karakter bergaya Lego yang terinspirasi Jacky lengkap dengan salah satu T-shirt favoritnya.

Jacky juga mengumpulkan lebih dari $67.000 untuk membantu sesama pelari yang diamputasi. Dana itu diperuntukkan guna mendapatkan prostesis, yang harganya mahal, yang mereka butuhkan. Asuransi kesehatan biasanya tidak menanggung biayanya, yang bisa melebihi $10.000.

Setiap hari sejak 17 Januari lalu, Jacky menempuh jarak maraton klasik sepanjang 42,2 kilometer baik di lintasan melingkar yang terletak di dekat rumahnya di Gilbert, Arizona, atau di atas treadmill di dalam ruangan.

Tujuan awalnya adalah menyelaikan 100 lari maraton dalam 100 hari sehingga bisa memcahkan rekor 95 maraton yang dibuat pada tahun 2020 oleh Alyssa Amos Clark, seorang pelari bukan difabel dari Bennington, Vermont AS, yang melakukannya sebagai strategi penanggulangan pandemi. Tetapi bulan lalu, setelah pelari Inggris yang bukan difabel, Kate Jayden, secara tidak resmi memecahkan rekor Clark dengan 101 maraton dalam 101 hari, Jacky menyadari bahwa dia harus berlari menyelesaikan setidaknya 102 maraton.

Dalam sebuah wawancara dengan The Associated Press, dia mengatakan dia berharap apa yang ia lakukan bisa menginspirasi orang di seluruh dunia untuk mendorong diri mereka sendiri terlepas dari keterbatasan fisik mereka. ap/yf (AP)

document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function (event) {
if (DWDE.dsgvo.isStoringCookiesOkay()) {
facebookTracking();
}
});
function facebookTracking() {
!function (f, b, e, v, n, t, s) {
if (f.fbq) return;
n = f.fbq = function () {
n.callMethod ?
n.callMethod.apply(n, arguments) : n.queue.push(arguments)
};
if (!f._fbq) f._fbq = n;
n.push = n;
n.loaded = !0;
n.version = ‘2.0’;
n.queue = [];
t = b.createElement(e);
t.async = !0;
t.src = v;
s = b.getElementsByTagName(e)[0];
s.parentNode.insertBefore(t, s)
}(window, document, ‘script’,
‘https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js’);
fbq(‘init’, ‘157204581336210’);
fbq(‘track’, ‘ViewContent’);
}

Sumber Berita : www.dw.com