[Polling] NASAMS Jadi Sistem Hanud Terfavorit untuk IKN Nusantara, Pantsir S1 Diposisi Kedua

[Polling] NASAMS Jadi Sistem Hanud Terfavorit untuk IKN Nusantara, Pantsir S1 Diposisi Kedua

Pemerintah Pusat telah menetapkan mega proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru Nusantara di Kalimantan Timur, dengan proyeksi tuntas dalam periode 23 tahun, atau pada tahun 2045. Dan terkait kelengkapan yang melekat pada IKN Nusantara, salah satu yang tak bisa dikesempingkan adalah ketersediaan fasilitas pertahanan udara yang menjadi elemen kunci pada sebuah ibu kota.

Baca juga: Hadapi Potensi Serangan dari Cina, Guam Akan Dilengkapi Sistem Rudal Hanud Jarak Jauh

Berlokasi lebih dekat dengan wilayah perbatasan, termasuk lebih dekat dengan hotspot di Laut Cina Selatan, menjadikan sistem arhanud harus dipersiapkan sebagai perisai ruang udara IKN. Dan melihat dinamika ancaman di masa depan, IKN Nusantara perlu diperkuat sistem hanud terminal berupa skadron pesawat tempur dan sistem hanud titik yang berisikan kanon/rudal hanud.

Terkhusus bicara rudal hanud, maka melihat dinamika dan tuntutan operasi, idealnya hanud IKN Nusantara dapat dilegkapi rudal hanud jarak menengah – MERAD (Medium Range Air Defence). Mengapa bukan rudal hanud jarak jauh? Tentu tidak salah jika bisa diadopsi rudal hanud jarak jauh. Namun lagi-lagi, tingkat kesiapan biaya akuisisi dan anggaran operasional untuk rudal hanud jarak jauh, dipandang berat bagi kocek anggaran pertahanan Indonesia. Belum lagi dalam perspektif regional, Indonesia bakal menghadapi tekanan politik dari negara tetangga yang kerap vokal, seperti Singapura dan Australia.

Untuk itu, Indomiliter.com pada periode 3 Juli – 3 Agustus 2022, menggelar polling dengan metode one vote one IP. Mengambil tema “IKN Nusantara Perlu Dilengkapi Sistem Rudal Hanud Jarak Sedang, Menurut Anda Manakah yang Paling Ideal?” Dalam polling ini yang jadi kontestan adalah beberapa sistem hanud jarak sedang yang tengah dioperasikan di pasar manca negara, yaitu NASAMS(National/Norwegian Advanced Surface to Air Missile Systems), Pantsir S1, Iron Dome, Sky Sabre, VL Mica dan Spyder.

Diikuti oleh 3.874 responden, ternyata pilihan utama responden jatuh pada NASAMS dengan dipilih oleh 1.476 responden (38 persen). Sementara tempat kedua ada pada Pantsir S1 yang dipilih 733 responden (19 persen). Dan di tempat ketiga adalah Iron Dome yang dipilih 699 responden (18 persen). Posisi keempat ditempati VL Mica GBAD yang dipilih 637 responden (16 persen), posisi kelima ditempati Spyder dengan 195 responden dan terakhir Sky Sabre dengan 135 responden.

NASAMS
Pilihan utama responden pada NASAMS diperaya terkait dengan sudah terpasangnya sistem hanud ini di Teluk Naga, yang dioperasikan oleh Satrudal 111. Dengan terpasangnya NASAMS batch kedua di IKN Nusantara, maka setidaknya ada kemudahan dalam kompabilitas dan aspek yang bersifat operasional lainnya. Terlebih sistem NASAMS sejatinya bersifat mobile, sehingga bisa saja NASAMS di Teluk Naga untuk digeser ke IKN Nusantara.

Baca juga: Lindungi Ibu Kota, Satrudal 111 “NASAMS” Teluk Naga Resmi Beroperasi

Sistem NASAMS yang ditempatkan di Teluk Naga terdiri dari peluncur rudal AIM-120 AMRAAM berpemandu active radar homing, radar Raytheon MPQ-64F1 Sentinel high-resolution, sensor infra red (IR) dan electro optic (EO), dan command post atau FCU (Fire Control Unit). MPQ-64F1 adalah 3D beam surveillance radar yang punya jarak pantau hingga 75 km.

Pantsir S1
Meski mengalami beberapa kali lost dalam laga di Suriah dan Libya, rupanya sistem hanud kompak buatan Rusia ini mendapat tempat favorit dalam polling. Pantsir S1 juga dianggap ideal untuk postur hanud Indonesia, dimana Pantsir yang mengusung konsep hybrid juga mengedepankan unsur SHORAD lewat adanya kanon empat laras kaliber 30 mm.

Baca juga: Media Rusia: 40 Unit Drone Tempur Turki Ditembak Jatuh Sistem Hanud Pantsir S-1 di Libya dan Suriah

Sementara kebutuhan hanud jarak menengah hadir lewat konfigurasi rudal 57E6. Baik kanon dan rudal dikemas dalam satu wahana, plus platform dapat bergerak mandiri dengan, generator, perangkat sensor, ruang kendali FCS (fire control system) dan radar yang kesemuanya terigentegrasi dalam kontainer di satu truk. Ini menjadikan pola deploy Pantsir S-1 lebih efisien dan cepat.

Iron Dome
Secara prinsip memang sulit untuk mengakuisisi Iron Dome ke Indonesia. Namun sistem hanud buatan Rafael Advance Defence System, Israel ini telah membekas kuat dalam ingatan netizen, terutama setelah rasio keberhasilannya dalam memagari ruang udara Israel dari serangan roket-roket pejuang Palestina.

Iron Dome terdiri dari sistem rudal pencegat (C-RAM/Counter Rocket, Artillery, and Mortar) yang diberinama Tamir, sistem Battle Management & Control (BMC) , dan sistem radar pendeteksi atau counter battery radar. Berbeda dengan sistem hanud Pantsir-S1 dari Rusia yang memadukan komponen radar, rudal dan kanon dalam satu kesatuan, maka Iron Dome digelar dalam paket yang terpisah dan tidak bersifat mobile.

VL Mica Ground Based Air Defence
Sistem VL Mica GBAD terdiri dari serangkaian elemen yang dipasang pada plaform truk, yang terdiri dari satu unit Tactical Operations Center, radar Sagem SIGMA 30, dan kendaraan peluncur yang dapat membawa antara tiga dan enam multi round launcher.

Baca juga: Perkuat Hanud Ibu Kota Negara, Maroko Terima VL Mica Ground Based Air Defence

VL Mica adalah sistem hanud jarak pendek/menengah berbasis darat yang menggunakan rudal Mica yang diluncurkan dengan mekanisme fire-and-forget. MBDA mengklaim saat ini Mica menjadi satu-satunya rudal di dunia yang dilengkapi dengan heatseeking homing head (VL Mica Infared) atau dengan radar aktif (VL Mica RF). Kemampuan tersebut dihadirkan untuk menjamin kill probability yang tinggi, bahkan di lingkungan IRCM-ECM (jamming) yang parah.

Spyder
Spyder (Surface-to-air PYthon and DERby) buatan Rafael dan Israel Aircraft Industries (IAI), inilah sistem peluncur rudal pertahanan udara (hanud) titik (point defence) yang jadi andalan Negeri Pulau Singapura.

Dalam satu platform peluncur, Sypder dapat memuat dua jenis rudal hanud yang berbeda, dirancang untuk menggasak sasaran yang terbang rendah dan sasaran dalam medium range. Soal battle proven, pembom intai Tupolev Tu-22MR Backfire dan pesawat serang darat Sukhoi Su-25 Rusia telah menjadi korban keganasan Spyder.

Baca juga: Spyder, Ini Dia Sistem Rudal Hanud Hybrid Andalan Singapura

Dua jenis rudal yang sanggup dilontarkan Spyder adalah Python 5 dan Derby. Python 5 desain awalnya sebagai rudal udara ke udara jarak dekat, yang kemudian digarap Rafael untuk ground based surface to air missile, dan jadilah rudal ini menyandang predikat SHORAD. Jarak jangkau Python 5 dipatok hingga 15 km, dan mampu melesat sampai Mach 4, atau setara dengan rudal Starstreak yang juga dimiliki Arhanud TNI AD. Untuk menguber sasarannya, Python 5 menggunakan pemandu infra red dan electo optical imaging.

Satunya lagi adalah Derby, ini masuk kategori rudal BVR (beyond visual range), juga varian awalnya adalah rudal udara ke udara. Sekilas desainnya mengingatkan pada rudal legendaris AIM-7 Sparrow. Seperti halnya Python 5, Derby juga punya kecepatan luncur Mach 4, namun sebagai short – medium SAM (surface to air missile), Derby dapat menjangkau sasaran sejauh 50 km.

Sky Sabre
Setelah Rapier digunakan sejak 50 tahun sebagai British Ground Based Air Defence, dan terkenal battle proven dalam laga Perang Malvinas, akhirnya pada 27 Januari 2022, The 16 Regiment Royal Artillery, secara resmi memensiunkan arsenal rudal Rapier dalam sebuah upacara pelepasan yang dihadiri Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace.

Purna tugasnya Rapier juga menandakan operasional penggantinya, yaitu sistem hanud Sky Sabre. Dikutip dari dailymail.co.uk (27/1/2022), disebutkan bahwa Sky Sabre dianggap lebih punya kapabilitas untuk menghadapi ancaman khas abad-21.

Baca juga: Inggris Tempatkan Sistem Hanud Sky Sabre di Perbatasan Polandia – Ukraina

Komponen Sky Sabre Air Defence System terdiri dari unsur utama berupa rudal Common Anti-Air Modular Missile (CAMM) – Land Ceptor buatan MBDA UK. CAMM disebut punya jangkauan tiga kali lipat lebih jauh dari Rapier dan punya kecepatan Mach 3 (1.020 meter per detik). Desain CAMM dikembangkan dari rudal udara ke udara jarak pendek Advanced Short Range Air-to-Air Missile (ASRAAM). Dengan berat 99 kg, CAMM dapat menguber sasaran berupa jet tempur sampai bom pintar hingga jarak 25 km. Mengandalkan two way data link, CAMM dilengkapi sistem pemandu active radar homing. (Indomiliter)



Source link