Rina Nose Baru Bisa "Mikir" Setelah Jadi Korban Bully Masa SMA

JAKARTA, RagamNews.com – Artis Rina Nose mengaku, baru bisa “mikir” saat SMA. Itu terjadi ketika dirinya sering dibully, karena disebut sok gaya.

Ketika SMA, Rina kerap dipercaya dalam berbagai acara kesenian diantaranya seperti kabaret, menyanyi dan lain-lain. Rina juga sering ikut lomba menyanyi, akting, dan berkesenian hingga masuk sebuah masalah khusus Jawa Barat bernama Mangle.

Di masa itu, majalah yang sedang populer adalah Aneka, Yes, dan Gadis. Dia menyadari, derajatnya beda dengan Majalah Mangle. Bayangannya, orang populer dan keren masuk majalah terkenal itu tetapi dirinya hanya masuk majalah Sunda.

“Di sekolah saat ada pelajaran Bahasa Sunda, di bagiin semua majalah Bahasa Sunda satu kelas. Ada yang nemuin foto gue disitu, dibilangin malu-maluin SMA Pasundan 2 masuk Majalah Mangle (dalam Bahasa Sunda),” ujar Rina, dikutip dari perbincangannya di Youtube Denny Sumargo, Jumat (29/4/2022).

Tak disangka, bully dari temannya itu masih terpatri dibenak Rina. Rina juga tidak tahu pasti, apakah temannya itu masih mengingatnya atau tidak.

“Itu masih ada. Aduh terekam cara ngomongnya, suaranya yang akhirnya ada karakter Nur itu yang gue ambil,” ujar wanita yang jago impersonate itu.

Ketika dibully, Rina mengaku tidak pernah melawan. Tindakan yang bisa dia lakukan hanyalah menyendiri, di kamar, ketika mengingat momen tak mengenakan, dia menitihkan air mata.

“Bego ya. Kalau inget, nangis, sakit hati dan curhat sama bapak gue. Bapak demen baca buku, gue dikasih buku saat SMA, dia usia 16 tahun. Gue SD di usia 5 tahun, jadi lebih cepat,” kata dia.

Mulai dari situ, Rina menemukan beragam buku yang dia sukai. Diantaranya buku mengenai perilaku manusia dan psikologi. “Senang aja, malah novel nggak suka,” sambung dia.

Setelah membaca, dia mencari cara menemukan bagaimana caranya bila dibully tidak terpuruk. Alhasil dia hanya bisa marah di rumah, bila nangis, sendiri, dia membuat kreativitas.

“Demennya ngoprek. Lihat sendal jepit kaya gitu aja, gue kasih payet. Pengen rok, buat sendiri. Jadi lebih suka di rumah, daripada pergi,” kata dia.

Tak disangka, kini dia diasumsikan sebagai seorang pemikir bebas sesuka hati dan pemikir segala hal. “Terserah mau disebut free thinker apapun, terserah,” sambung dia.