SDI dan Kisah Inspiratifnya

TANGERANG, RagamNews.com – Sebagian besar dari anak laki-laki, bahkan sekarang sudah cukup banyak anak perempuan, sangat ingin atau bercita-cita untuk menjadi pilot. Sayangnya, bacaan dan referensi yang mendukung keinginan anak-anak tersebut dalam perjalanannya tumbuh dewasa sangat kurang sekali. Mungkin saja itu yang menjadi perangsang seorang anak muda Hery Friyanto untuk membuat Simulator Center di kawasan pertokoan pusat kota Tanggerang, Banten.

Dia sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang penerbangan (aviation), akan tetapi Hery memiliki minat yang sangat luar biasa pada bidang kedirgantaraan.

Yang mengagumkan, Hery tidak hanya menyediakan fasilitas simulator pesawat terbang dari beberapa jenis, seperti Boeing 737 dan helikopter, akan tetapi juga mencoba turut serta membantu penyelenggaraan pendidikan di bidang penerbangan. Hery memfasilitasi beberapa pelatihan singkat (short course) bagi FOO (Flight Operation Officer) dan tenaga SDM penyiap kargo udara, terutama berkait dengan bahan berbahaya (dangerous good).

Hery menyelenggarakan itu semua semata karena hobi dan minatnya yang luar biasa pada bidang penerbangan. Dia mendirikan pusat kegiatannya itu dengan label atau merek dagang Simulator Dirgantara Indonesia atau SDI. Lebih hebat lagi, pada lokasi simulator yang terletak di tengah kompleks pertokoan sejenis mall itu, selain tersedia toko suvenir berisi atribut dan aksesori penerbangan serta perpustakaan kecil yang memuat buku buku aviasi, Hery juga mendesain khusus sebuah sisi dinding penuh gambar.

Dinding bergambar ini berisi foto-foto dari para tokoh dirgantara Indonesia. Dinding ini dinamakan sebagai “Tokoh Dirgantara Indonesia – Wall of Fame”.

SDI memang menyediakan beberapa simulator pesawat terbang sayap tetap (fixed wing) dan sayap putar (rotary wing), kursus SDM penerbangan, taman bacaan mungil, toko suvenir aksesories penerbangan, dan dinding tempat display dari para perintis dan tokoh kedirgantaraan Indonesia.

Dengan demikian, lengkaplah sudah SDI berperan penuh sebagai pusat pendidikan bagi anak-anak untuk mengembangkan minat kedirgantaraan. “Anak-anak bisa berkegiatan di SDI, sementara orangtua mereka bisa berkeliling belanja di pusat pertokoan di sektarnya,” kata Hery.

Saya pertama kali mengunjungi SDI di Tanggerang pada 2017, ketika diajak oleh seorang sahabat, pilot senior almarhum Capt Teddy K Soekarno, penasehat Federasi Pilot Indonesia. Sangat mengagumkan, ada sosok anak muda yang berinisiatif membuat pusat “kedirgantaraan” di tengah lokasi pertokoan atau pusat belanja di tengah Kota Tanggerang.

Tidak hanya sebagai sarana bermain, karena ternyata SDI telah menghasilkan pilot dan SDM di bidang penerbangan dengan standar internasional di bawah bimbingan dan pengawasan Kementrian Perhubungan.

Sudah cukup banyak pilot yang terbang di berbagai maskapai penerbangan, baik dalam dan luar negeri, serta SDM penerbangan profesional yang berawal dari kunjungan mereka ke SDI di Tangerang ini. Berawal dari latihan simulator dan mengikuti berbagai kursus di SDI Tanggerang, berlanjut kemudian dengan berkarier di bidang penerbangan secara professional. Hebat dan salut!

Salah satu kisah inspiratif, diceritakan berikut ini oleh seorang pilot muda, Rachmat Kartakusuma, cucu dari Jenderal TNI Rachmat Kartakusuma:

Kecintaan seseorang terhadap penerbangan atau kedirgantaraan, baik di dunia maupun nasional, masih dikatakan rendah. Namun, bagi beberapa kalangan termasuk Rachmat, adalah golongan yang termasuk sedikit itu.

Sejak masih balita, pengaruh dari orangtua Rachmat yang sudah memperkenalkan kedirgantaraan, sudah ditanamkan sejak dini. Baik dari mainan pesawat, film seperti Pearl Harbors (2001) dan Top Gun (1986), serta melihat monumen pesawat yang sudah dipajang di beberapa lokasi, seperti pesawat DC-3 Dakota bekas TNI Angkatan Udara di Lakespra, pesawat DC-9 bekas Garuda Indonesia di TMII, dan beberapa koleksi pesawat di Satria Mandala.

Dengan melihat monumen pesawat tersebut, yang timbul dalam pikiran anak balita seperti Rachmat ialah suatu saat saya harus menjadi pilot.

Keinginan tersebut konsisten Rachmat tekuni, meski sempat terbesit dalam pikiran bahwa ia ingin menjadi ini dan itu, tetapi ternyata jodoh Rachmat adalah untuk mengabdikan diri di dunia kedirgantaraan.

Hal itu menjadi sebuah kenyataan ketika Rachmat mendekati lulus SMA pada 2016, ia yang masih berkeinginan teguh untuk menjadi seorang pilot, mencari-cari di mana sekiranya sekolah pilot yang laik untuk diambil. Tentu sebelum ikut seleksi sekolah pilot, Rachmat harus mempersiapkan diri. Di antaranya akademik, kesehatan, bakat terbang, dan lainnya.

Khusus untuk tes bakat terbang, biasanya seorang penguji meminta calon siswa untuk terbang menggunakan simulator latih mereka. Karena Rachmat memang belum pernah mengikuti pelatihan pilot sebelumnya, maka ia mengambil beberapa persiapan untuk bisa mengenali kendali pesawat.

Sempat ia browsing di internet dan menemukan ada sebuah tempat pelatihan pilot di Tangerang. Tempat tersebut adalah Simulator Dirgantara Indonesia, lokasinya cukup unik, karena berada di atas pusat perbelanjaan. Seyogyanya tempat pendidikan dan pelatihan untuk penerbang berada di atas satu bidang tanah tersendiri.

Ketika Rachmat berada di sana, ia yang baru pertama kali melihat, tentu sangat excited dan ingin langsung mencoba simulator tersebut. Ia terkagum, karena akhirnya menemukan tempat yang dicari selama ini. Saat itu, pada 2016, masih ada beberapa simulator pesawat saja. Di antaranya Boeing 737-800 NG dan Cessna 172 analog.

Mengembangkan Cinta Dirgantara

Segala sesuatu kalau kita kerjakan sesuai dengan minat kita, tentu akan membuahkan hasil yang baik, tidak lain di penerbangan. Jika kita memang memiliki minat tinggi pada penerbangan maka hasil yang akan kita berikan juga baik.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita mengembangkannya? Di SDI, ada sebuah program yang unik, namanya “junior pilot”. Di sini anak-anak diajak bergabung untuk merasakan sensasi jadi seorang pilot, mereka diajak bermain simulator, dan merasakan sensasi terbang.

Selain itu, mereka juga dibekali oleh ilmu pengetahuan dasar penerbangan. Sehingga jika hal-hal seperti ini dilakoni sedari dini, maka hal tersebut mungkin akan berkembang dan tumbuh baik pada pola pikir dan minat anak-anak, dan hasilnya saat dewasa mereka ingin berkecimpung di dunia penerbangan, meski tidak menjadi pilot. Karena jika berbicara dunia penerbangan itu luas.

TANGERANG, RagamNews.com – Sebagian besar dari anak laki-laki, bahkan sekarang sudah cukup banyak anak perempuan, sangat ingin atau bercita-cita untuk menjadi pilot. Sayangnya, bacaan dan referensi yang mendukung keinginan anak-anak tersebut dalam perjalanannya tumbuh dewasa sangat kurang sekali. Mungkin saja itu yang menjadi perangsang seorang anak muda Hery Friyanto untuk membuat Simulator Center di kawasan pertokoan pusat kota Tanggerang, Banten.

Dia sendiri tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang penerbangan (aviation), akan tetapi Hery memiliki minat yang sangat luar biasa pada bidang kedirgantaraan.

Yang mengagumkan, Hery tidak hanya menyediakan fasilitas simulator pesawat terbang dari beberapa jenis, seperti Boeing 737 dan helikopter, akan tetapi juga mencoba turut serta membantu penyelenggaraan pendidikan di bidang penerbangan. Hery memfasilitasi beberapa pelatihan singkat (short course) bagi FOO (Flight Operation Officer) dan tenaga SDM penyiap kargo udara, terutama berkait dengan bahan berbahaya (dangerous good).

Hery menyelenggarakan itu semua semata karena hobi dan minatnya yang luar biasa pada bidang penerbangan. Dia mendirikan pusat kegiatannya itu dengan label atau merek dagang Simulator Dirgantara Indonesia atau SDI. Lebih hebat lagi, pada lokasi simulator yang terletak di tengah kompleks pertokoan sejenis mall itu, selain tersedia toko suvenir berisi atribut dan aksesori penerbangan serta perpustakaan kecil yang memuat buku buku aviasi, Hery juga mendesain khusus sebuah sisi dinding penuh gambar.

Dinding bergambar ini berisi foto-foto dari para tokoh dirgantara Indonesia. Dinding ini dinamakan sebagai “Tokoh Dirgantara Indonesia – Wall of Fame”.

SDI memang menyediakan beberapa simulator pesawat terbang sayap tetap (fixed wing) dan sayap putar (rotary wing), kursus SDM penerbangan, taman bacaan mungil, toko suvenir aksesories penerbangan, dan dinding tempat display dari para perintis dan tokoh kedirgantaraan Indonesia.

Dengan demikian, lengkaplah sudah SDI berperan penuh sebagai pusat pendidikan bagi anak-anak untuk mengembangkan minat kedirgantaraan. “Anak-anak bisa berkegiatan di SDI, sementara orangtua mereka bisa berkeliling belanja di pusat pertokoan di sektarnya,” kata Hery.

Saya pertama kali mengunjungi SDI di Tanggerang pada 2017, ketika diajak oleh seorang sahabat, pilot senior almarhum Capt Teddy K Soekarno, penasehat Federasi Pilot Indonesia. Sangat mengagumkan, ada sosok anak muda yang berinisiatif membuat pusat “kedirgantaraan” di tengah lokasi pertokoan atau pusat belanja di tengah Kota Tanggerang.

Tidak hanya sebagai sarana bermain, karena ternyata SDI telah menghasilkan pilot dan SDM di bidang penerbangan dengan standar internasional di bawah bimbingan dan pengawasan Kementrian Perhubungan.

Sudah cukup banyak pilot yang terbang di berbagai maskapai penerbangan, baik dalam dan luar negeri, serta SDM penerbangan profesional yang berawal dari kunjungan mereka ke SDI di Tangerang ini. Berawal dari latihan simulator dan mengikuti berbagai kursus di SDI Tanggerang, berlanjut kemudian dengan berkarier di bidang penerbangan secara professional. Hebat dan salut!

Salah satu kisah inspiratif, diceritakan berikut ini oleh seorang pilot muda, Rachmat Kartakusuma, cucu dari Jenderal TNI Rachmat Kartakusuma:

Kecintaan seseorang terhadap penerbangan atau kedirgantaraan, baik di dunia maupun nasional, masih dikatakan rendah. Namun, bagi beberapa kalangan termasuk Rachmat, adalah golongan yang termasuk sedikit itu.

Sejak masih balita, pengaruh dari orangtua Rachmat yang sudah memperkenalkan kedirgantaraan, sudah ditanamkan sejak dini. Baik dari mainan pesawat, film seperti Pearl Harbors (2001) dan Top Gun (1986), serta melihat monumen pesawat yang sudah dipajang di beberapa lokasi, seperti pesawat DC-3 Dakota bekas TNI Angkatan Udara di Lakespra, pesawat DC-9 bekas Garuda Indonesia di TMII, dan beberapa koleksi pesawat di Satria Mandala.

Dengan melihat monumen pesawat tersebut, yang timbul dalam pikiran anak balita seperti Rachmat ialah suatu saat saya harus menjadi pilot.

Keinginan tersebut konsisten Rachmat tekuni, meski sempat terbesit dalam pikiran bahwa ia ingin menjadi ini dan itu, tetapi ternyata jodoh Rachmat adalah untuk mengabdikan diri di dunia kedirgantaraan.

Hal itu menjadi sebuah kenyataan ketika Rachmat mendekati lulus SMA pada 2016, ia yang masih berkeinginan teguh untuk menjadi seorang pilot, mencari-cari di mana sekiranya sekolah pilot yang laik untuk diambil. Tentu sebelum ikut seleksi sekolah pilot, Rachmat harus mempersiapkan diri. Di antaranya akademik, kesehatan, bakat terbang, dan lainnya.

Khusus untuk tes bakat terbang, biasanya seorang penguji meminta calon siswa untuk terbang menggunakan simulator latih mereka. Karena Rachmat memang belum pernah mengikuti pelatihan pilot sebelumnya, maka ia mengambil beberapa persiapan untuk bisa mengenali kendali pesawat.

Sempat ia browsing di internet dan menemukan ada sebuah tempat pelatihan pilot di Tangerang. Tempat tersebut adalah Simulator Dirgantara Indonesia, lokasinya cukup unik, karena berada di atas pusat perbelanjaan. Seyogyanya tempat pendidikan dan pelatihan untuk penerbang berada di atas satu bidang tanah tersendiri.

Ketika Rachmat berada di sana, ia yang baru pertama kali melihat, tentu sangat excited dan ingin langsung mencoba simulator tersebut. Ia terkagum, karena akhirnya menemukan tempat yang dicari selama ini. Saat itu, pada 2016, masih ada beberapa simulator pesawat saja. Di antaranya Boeing 737-800 NG dan Cessna 172 analog.

Perkembangan yang Luar Biasa

Pada bulan suci Ramadan 2022 ini, Rachmat kembali mendapat kesempatan untuk berkunjung di tempat yang sama. Namun kali ini, ia diajak oleh Ketua Pusat Studi Air Power Indonesia yang sekaligus menjadi guru dan mentor pembimbingnya, Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim, dan seorang sahabat yang merupakan murid Chappy Hakim juga, Ahmad Fauzi.

Tujuan kunjungan kali ini adalah untuk membagikan buku kedirgantaraan kepada Simulator Dirgantara Indonesia. Setibanya di sana, kami langsung disambut hangat oleh Hery Friyanto.

Rachmat sangat terkejut, karena perubahan kondisi SDI yang sangat signifikan dibandingkan pada 2016 pertama kali ia datang.

Di sana sudah ada simulator untuk helikopter Bell 206 JetRanger III. Di mana sepengetahuan dirinya simulator untuk helikopter di Indonesia belum ada, bahkan siswa penerbang helikopter di Indonesia tidak melalui fase simulator. Mereka setelah melalui proses ground class langsung dihadapkan dengan praktik terbang.

Di sini Rachmat dapat menyimpulkan bahwa lembaga pendidikan sudah berpikir secara visioner. Apa yang belum dimiliki di negaranya sendiri, namun ia sudah mempersiapkannya. Kemudian, ini sudah menjadi lembaga pelatihan resmi yang disertifikasi oleh pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Dapat diartikan, pemerintah sudah menyambut baik ide dan inovasi yang dilakukan oleh Hery.

Sempat terpikir oleh Rachmat, “Kok bisa sebuah lembaga diklat untuk penerbangan berada di antara pusat perbelanjaan?”. Hal itu sebenarnya tidak masalah, karena ia memiliki keyakinan jika kita melakukan sesuatu secara konsisten, maka hal tersebut akan membuahkan kebaikan. Bisa saja dalam 5 tahun mendatang pusat perbelanjaan tersebut menjadi hilang dan menjadi sebuah ruangan besar untuk mengoperasikan full flight simulator (FFS) helikopter. Karena memang belum ada di Indonesia untuk FFS helikopter.

Selain untuk melatih pilot, di tempat ini juga disediakan untuk melatih para FOO. Sebuah profesi yang nantinya akan membantu menyiapkan penerbangan. Sekali lagi, Rachmat tidak menyangka bahwa tempat ini berkembang secara luar biasa dan disambut baik oleh insan dirgantara Indonesia.

Hal seperti ini sudah sepatutnya dijadikan contoh untuk mengembangkan minat dan industri dirgantara di Indonesia, khususnya di bidang pendidikan dan pelatihan. Harus diakui bahwa di Indonesia yang masih kurang ialah bidang pendidikan dan pelatihan.

Bukti mudahnya saja, seorang calon pilot perintis pesawat Cessna Caravan, mereka tidak mendapat pelatihan simulator terlebih dahulu sebelum mereka memasuki fase terbang. Hal ini sebetulnya high cost dan high risk jika terus dibiarkan. Kita tentu berharap bahwa setiap penerbangan tidak terjadi sebuah kecelakaan fatal. Namun, alangkah baiknya jika kita mematangkan SDM dengan baik sebelum kita berikan tanggung jawab yang lebih besar lagi.

Saat ini untuk simulator Cessna Caravan baru dimiliki oleh Susi Air saja di Pangandaran, Jawa Barat. Entah apa yang menjadi alasan bahwa kebanyakan operator enggan untuk melatih pilotnya terlebih dahulu di simulator baru kemudian diterbangkan pada pesawat yang sebenarnya untuk pesawat jenis Caravan ini.

Penulis: Chappy Hakim – Pusat Studi Air Power Indonesia