Soal Manusia Gurun, PPP Kecam Rektor ITK: Tindakan Xenophobia yang Menjijikkan!

JAKARTA, RagamNews.com – Anggota Komisi X DPR dari Fraksi PPP Illiza Sa’aduddin Djamal mengecam keras pernyataan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Prof Budi Santosa Purwokartiko di akun media sosialnya yang menyinggung soal ‘penutup kepala ala manusia gurun’.

“Pernyataan tersebut sangat diskriminatif terhadap mahasiswa berjilbab. Dan tentunya ini sangat disayangkan karena ini muncul dari seorang rektor dan profesor yang notabennya kaum berpendidikan,” kata Illiza dalam keterangannya, dikutip Senin (1/5/2022).

Pernyataan Budi Santoso itu, lanjutnya, menunjukkan bahwa gelar dan jabatan tinggi tidak menjamin seseorang akan bijak dalam bersikap. Bahkan kadang perilakunya tidak mencerminkan kalau dia seorang rektor di perguruan tinggi.

“Seharusnya seorang rektor mencerminkan sikap dan tindakan yang santun, serta wawasan keilmuan yang luas bukan justru memperlihatkan tindakan xenophobia yang menjijikkan,” jelasnya.

Illiza menilai, dalam unggahan medsos itu, Budi Santoso seakan dengan sengaja melakukan pembedaan berdasarkan ras, dan ini juga menurut saya menimbulkan kebencian pada golongan tertentu, atau xenophobia.

“Pernyataan itu sudah memojokan agama tertentu, karena diketahui bahwa agama yang memerintahkan untuk menutup kepala adalah agama Islam dan itu berani diungkapkan di negara yang mayoritas muslim,” terangnya.

Lebih jauh, Illiza menyebut apa yang dituliskan Prof Budi sangat bertentangan dengan dasar negara Indonesia, Pancasila. Rasisme dan xenophobic bertentangan dengan nilai Pancasila, karena rasisme melanggar nilai kemanusiaan dan keadaban.

“Bukan hanya itu, rasis juga bertentangan dengan agama kita, Islam, dalam Islam, Allah menyebutkan bahwa telah menciptakan kita dari laki-laki dan perempuan, kamudian jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita ini saling mengenal. dan yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa, itu disebutkan dalam Al-Quran surat Alhujarat ayat 3,” tandasnya.

Karena itu, Illiza meminta Prof Budi untuk meminta maaf atas pernyataannya telah meresahkan masyarakat Indonesia, apalagi pernyataan tersebut dapat memecah belah persatuan antar anak bangsa.

Seperti diberitakan, Rektor ITK Prof Budi Santosa Purwokartiko dituding rasis karena status di akun media sosialnya yang menyinggung ‘penutup kepala ala manusia gurun’ saat bercerita pengalamannya menjadi pewawancara mahasiswi calon penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Berikut pernyataan Budi Santoso di akun media sosialnya yang menuai kontroversi:

Saya berkesempatan mewawancara beberapa mahasiswa yang ikut mobilitas mahasiswa ke luar negeri, program Dikti yang dibiayai LPDP ini banyak mendapat perhatian dari para mahasiswa. Mereka adalah anak-anak pinter yang punya kemampuan luar biasa, jika diplot dalam distribusi normal, mereka mungkin termasuk 2,5% sisi kanan populasi mahasiswa.

Tidak satu pun saya mendapatkan mereka ini hobi demo yang ada adalah mahasiswa dengan IP yang luar biasa tinggi di atas 3.5 bahkan beberapa 3.8 dan 3.9. Bahasa Inggris mereka cas cis cus dengan nilai IELTS 8, 8.5 bahkan 9. Duolingo bisa mencapai 140, 145 bahkan ada yang 150 (padahal syarat minimum 100), luar biasa. Mereka juga aktif di organisasi kemahasiswaan (profesional), sosial kemasyarakatan dan asisten lab atau asisten dosen.

Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagainya. Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta beberapa tahun mendatang.

Dan kebetulan dari 16 yang saya harus wawancara, hanya ada 2 cowok dan sisanya cewek. Dari 14, ada 2 tidak hadir, jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar openmind, mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi.

Saya hanya berharap mereka nanti tidak masuk dalam lingkungan yang

  • Membuat hal yang mudah jadi sulit

  • Bekerja dari satu rapat ke rapat berikutnya tanpa keputusan

  • Mementingkan kulit daripada isi

  • Menyembah Tuhan tapi lupa pada manusia

  • Menerima gaji dari negara tapi merusak negaranya

  • Ingin cepat masuk surga tapi sakit tetap cari dokter dan minum obat

  • Menggunakan KPI langit sementara urusannya masih hidup di dunia

Semoga tidak tercemar